Monday, October 10, 2005

Ini adalah Shadra, aku selalu memanggilnya Shadra. Nama yang bagus menurutku. Ia sering sekali menangis. Memeluk lututnya adalah kebiasaan, atau suatu keharusan. Entahlah.
Dan sekarang, ia masih saja menangis. Ketika ku bertanya, mengapa, ia malah bernyanyi. Sebuah bait singkat:
Aku rindu satu, dua, atau tiga yang hilang
Yang pergi tak lagi pernah kembali
Senyum, tawa, dan canda
Tak lagi kulihat di wajahnya
Sekali pun tiada terdengar dari bibirnya
Kaku
Aku benci, Biar ku menangis saja
Ah, aku tidak tahu mengapa ia bernyanyi seperti itu
Ah, tapi pasti ia sedang kehilangan.
Pasti, atau juga mungkin. Ah, mungkin pasti.

Sunday, October 09, 2005

sebuah rumah kayu --- ah, hanya fiksi

21 September 2004, dalam pagi tertutup selimut tebal,
ku hampiri kau dengan tulisan ajakan bersama.
Lalu kau terima, dan membalas dengan tulisan ‘iya, iya dan iya’
begitu yang kubaca setelah getar ponselku kurasa di dalam telapak tangan di depan dadaku
lalu berdua saling menopang kita menghayal tentang masa datang
sebuah Rumah Panggung dari Kayu menanti di depan untuk diisi
dan sebuah ayunan berdiri tegak terdiam di tengah halamannya yang luas, menunggu Ilalang menaikinya.
Dan sudah setahun kini
Tak lagi kudengar kisah tentang Rumah Panggung di Tepi Pantai itu di lingkaran cerita kita.
Ilalang tak lagi bermain ayunan di halaman khayal kita.
Meski aku yakin, ia masih di sana, Hanya tak lagi sering kita lihat.
Tapi, ah, jangan terlalu dipikirkan.
Mungkin terlalu fiksi untuk jadi nyata,
Meski rumah itu yakin bahwa ia benar-benar nyata

Ah, ya, sekarang kita makin dewasa.
Kita tinggalkan semua cerita kekanakan kita.
Itu buat kita semakin dewasa.
Walau yang kupahami, Dewasa itu tidak berbohong,
Dan tidak bersembunyi,
Bukannya tidak bercerita

Aku rindu berlayar ke kotaku, yang kotamu juga.
Mungkin masih harus menunggu
Karena kita hanya menunggu, Dan bertahan,
Seraya berdoa pada waktu,
Semoga ia berpihak esok hari.

Kembali ke rumah kayu,
Kuharap kita bisa bersama merawatnya,
Karena hujan, terik dan angin laut sudah mengoyak dinding dan atapnya.
Kenanglah, maka ia kan kembali seperti semula.
Cukup dengan sekali mengenang,
Hanya sekali...

***dalam banyak kerinduan, bukan padamu, tapi pada 'kita'***

Thursday, October 06, 2005

Jingga... dan Hitam
kutatap, coba pisahkan
Jingga...
Hitam...

Sang Jingga masih terpekur di ufuknya
Padahal ia tahu, si Hitam sudah sekarat hidup dengan sedikit sisa-sisa cahaya
Namun Sang Jingga belum juga beranjak
Meski ia tahu, ia 'kan menyusul hilang

Si Hitam kini menangis tanpa suara
Mencoba meraih Sang Jingga 'tuk ikut bersamanya
Dan Sang Jingga terbangun
Terbangun dari tidurnya yang sombong
Karena tersadar,
Ia sudah setengah menyusul
Namun si Hitam sudah memeluknya
Hilanglah kesombongan
Hingga teriakan-teriakan Adzan sudah berganti salam...

Wednesday, October 05, 2005

Bait-bait Sakit

Adalah sebuah piring kaca yang retak
Dan jatuh, namun belum lagi pecah
Kita adalah dia
Bertahan dengan sisa-sisa kasihan
Atau dengan keragu-raguan tersisa pada nurani

Yakin, kita tak yakin
Atau kita tak lagi punya hati 'tuk diyakini
'Tuk sesekali diberi jalan
Jalan-jalan percaya pada hati-hati yang lain


--------dalam bimbang, setelah membaca sebait blog kecil---

Aku Rindu Zaman Itu

Aku rindu zaman itu

Aku rindu zaman ketika halaqoh adalah
Kebutuhan,bukan sekedar sambilan apalagi
Hiburan

Aku rindu zaman ketika membina adalah
Kewajiban,bukan pilihan apalagi beban dan
Paksaan

Aku rindu zamanketika dauroh menjadi

Kebiasaan,bukan sekedar pelengkap pengisi
Program yang dipaksakan

Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi

Kekuatan, bukan keraguan apalagi
Kecurigaan

Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah

Pengorbanan,bukan tuntutan dan hujatan

Aku rindu zaman ketika nasehat menjadi

Kesenangan bukan su'udzon atau
Menjatuhkan

Aku rindu zaman ketika kita semua

Memberikan segalanya untuk da'wah ini

Aku rindu zaman ketika nasyid ghuroba

Menjadi lagu kebangsaan

Aku rindu zaman ketika hadir di liqo adalah

Kerinduan,dan terlambat adalah kelalaian

Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi

Kepuncak menjadi dauroh dengan ongkos
Ngepas dan peta tak jelas

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah

Benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta
Sepulang tabliq da'wah didesa sebelah

Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo

Selalu membawa uang infaq,alat tulis,buku
Catatan dan al-qur'an terjemahan
Ditambah sedikit hafalan

Aku rindu zaman ketika seseorang binaan

Menangis karena tak bisa hadir liqo

Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu

Depan diketok untuk mendapat berita
Kumpul subuh harinya

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah

Berangkat liqo dengan ongkos jatah
Belanja esok harinya untuk keluarga

Aku rindu zaman ketika seorang murrobi

Sakit dan harus dirawat,para binaan
Patungan mengumpulkan dana apa adanya

Aku rindu zaman itu,
Aku rindu.......
Ya allah
Jangan kau buang kenikmatan berda'wah
Dari hati-hati kami
Jangan kau jadikan hidup ini hanya berjalan
Ditempat yang sama

---Puisi Suherman ^+Dirgha+_ N---
commenting and trackback have been added to this blog.

Tuesday, October 04, 2005

pusar-pusar sampah

Puisi-puisi diam
Dalam sajak-sajak invisi yang buram

Hanya bahasa-bahasa hati yang mampu pahami
Dalam ruang-ruang kosong di kalbu, yang sengaja kita sisihkan 'tuk sesekali menampung suara-suara kecilnya
Dalam cahaya-cahaya remang lilin kamar, yang sesekali kita nyalakan dalam gelap-pekat malam 'tuk lihat ujud nyatanya

Hanya tangis yang bisa berubah
Ketika rongga-rongga dada tak lagi mampu hangatkan tubuh kita
Hanya senyum yang bisa tenangkan
Ketika riak-riak kecil hati t'lah menjadi badai dan bandang yang menghancurkan
Dengarlah, kita tertawa
Sesekali terduduk, bersila, atau melipat lutut di depan dada
Tataplah, tajam, kita tersenyum
Sambil terus melirik ke arah kaki yang tak lagi patah, tak lagi pincang

Peluklah aku, tahtakan leherku dengan kalungan lenganmu
Biar ku artikan kata-kata ini tanpamu
Hingga ku sadar aku adalah kalbu yang kosong

Monday, October 03, 2005

---dongeng hari ini : 1 Oktober 2005---

Bali meledak lagi...
Kapan kekejian berhenti berdendang??
Tak ingin ku jadi pahlawan,
atau jadi polisi yang salah menangkap penjahat
Tapi, sedihkah melihat tubuh-tubuh hancur begitu?
Atau kulit-kulit tersayat, melepuh serpih-serpih ledakan?
Hentikan...
Lihatlah hati kalian yang hitam oleh setan
Atau jantung-jantung mereka yang terbakar sisa-sisa ledakan...
Dengarlah suara-suara tangisan seluruh awan..
Juga lolongan-lolongan parau anjing-anjing malam
Mengutuk ledakan
Mengutuk kalian yang tertawa melihat darah dan potongan-potongan tangan
Dan usus yang memburai
Kawan, atau saudaraku...
Kita adalah sama
adalah satu
Hentikan ledakan
Hentikan ledakan

Saturday, October 01, 2005

surat buat ibunda

kadang hari jadi demikian melelahkan, ibunda, ruang menujumu tiba-tiba saja terasa luas dan jauh ingin nanda ceritakan tentang sayap-sayap yang tak henti belajar terbang mencari setiap celah untuk memperpendek jarak mempersempit ruang ingin nanda ceritakan tentang wangi kelopak sepanjang jalan, biru langit, hembus angin dan warna pucuk-pucuk hijau mengumpulkan keindahan dalam telapak untuk dibawa pulang ke pangkuan berharap bisa menghapus letih kening dan sudut mata bunda

sesungguhnya tak jarang langkah nanda tersandung batu terhalang badai tapi bekal yang bunda sampirkan sejak dulu selalu bisa menghantar nanda ke seberang

kadang kabut sama sekali nyaris tak tertembus, ibunda, perjuangan melewatinya tiba-tiba saja kehilangan tenaga ingin nanda ceritakan tentang ketakutan-ketakutan dan mimpi buruk menjelang tengah malam tentang kegamangan dan keraguan setiap kali jembatan dan pintu menghadang di depan mata tapi percayalah bekal yang bunda titipkan di bahu selalu bisa mengisi kekosongan, menguatkan dan menegakkan kembali wajah nanda

seperti pesan bunda, nanda belajar dari rumput yang tegar untuk selalu tumbuh nanda belajar dari tetes hujan di atas batu yang tawakal berikhtiar

tak pernah mudah, ibunda, tak pernah jika sesekali nanda berhenti nanda ingin bunda tahu bukan tuk menyerah tapi menerjemah hikmah dan menelaah diri sebelum berjalan lagi

tak pernah mudah, ibunda, memang tak pernah tapi nanda tak gentar sebab cinta dan doa bunda terbukti jadi energi tak berbatas yang tak pernah kehabisan cahaya dalam setiap langkah nanda

indah ip 14 juli 2003 8.56 am


disadur dari http://www.suratcinta.blogspot.com/

Friday, September 30, 2005

Pada rumput yang mengering
Pada rintik hujan yang tak lagi pernah berkunjung ke bumi
Pada jalan yang melunak oleh terik surya yang sedang marah...

Hidup adalah sebuah batu
Hidup adalah sebatang kayu
Yang tak pernah bergerak, dan tak akan pernah bergerak
Jika satu jari tak pernah menyentuhnya
Atau satu kaki pernah menendangnya hina

Dan mati adalah sebuah lampu
Mati adalah sebatang lilin
Takkan terang jika bukan gelap yang ia terangi
Takkan mencurahkan arti pada dirinya jika gelap tak menyapa dalam ruang

Marahlah..
Geramlah...
Tapi hidup adalah keadilan
Keadilan bagi mereka yang berdiri di atas hidung-hidung kita
Keadilan bagi mereka yang duduk ongkang kaki
Mengejek kita dengan wangi sepatunya yang hitam mengkilap
Pantulkan sinar lampu yang ia beli dengan uang budaknya...

Dan diamlah...
Bagi kalian yang bahagia hidup terjajah
Bagi kita yang tertawa walau hidup merangkak
Terlindas kakinya yang tak lagi pantas berpijak di atas tanah penderitaan kita

Dan bersatulah...
Sadarlah, kita lebih besar darinya...
Manusia lebih berakal dibanding binatang yang berdasi sekali pun
Sadarlah, tanah kalian direbut
Sadarlah, keringat kalian adalah tertawaannya

Satu kata lagi yang bisa kita ucap bersama,
LAWAN!!!