Dan sekarang, ia masih saja menangis. Ketika ku bertanya, mengapa, ia malah bernyanyi. Sebuah bait singkat:
Aku rindu satu, dua, atau tiga yang hilang
Yang pergi tak lagi pernah kembali
Senyum, tawa, dan canda
Tak lagi kulihat di wajahnya
Sekali pun tiada terdengar dari bibirnya
Kaku
Aku benci, Biar ku menangis saja
Ah, aku tidak tahu mengapa ia bernyanyi seperti itu
Ah, tapi pasti ia sedang kehilangan.
Pasti, atau juga mungkin. Ah, mungkin pasti.
No comments:
Post a Comment